About

TAS MEMBAWA BENCANA - Cerpen Covid19

 



TAS MEMBAWA BENCANA

 Risna kini tengah sibuk melayani pasien. Setiap hari Puskesmas Cempaka selalu ramai, karena Puskesmas Cempaka adalah satu-satunya unit kesehatan di Cempaka, Kecamatan Karangpawitan. Para petugas medis memakai baju hazmat, untuk menghindari penyebaran virus. Tiba saatnya pergantian shift. Ia dan temannya Wina mulai melepas baju hazmat dengan hati-hati. Dirasa semuanya sudah steril, Risna dan Wina pergi ke mushola. Ia duduk selonjoran sambil menyandar di dinding setelah shalat.

“Eh liat deh win.”

“Apaan?” jawab Wina.

“Tas ini bagus gak?” kata Risna sambil menunjukkan gadgetnya pada Wina.

“Eh iya lucu nih.”

“Tapi sisa dikit lagi di tokonya. Gimana ya?”

“Dimana tokonya? “

“Di Bandung.”

“Udahlah gausah, daerah Bandung lagi zona merah lho…”

“Tapi ini tas idaman aku Win.”

“Ya terserah kamu,” jawab Wina. Risna hanya mengerucutkan bibirnya.

Keesokan harinya, Risna berjalan menuju ruang Kepala Puskesmas. Ia ingin meminta izin untuk hari ini. Diam-diam ia berencana akan pergi ke Bandung sendiri.

Tok..tok…

“Masuk.”

“Ada apa Na?” lanjutnya.

“Maaf Pak Ridwan mengganggu waktunya. Boleh saya minta izin setengah hari Pak?”

“Kenapa memangnya?”

“Saya ada urusan mendadak Pak, jadi saya harus segera menyelesaikannya.” Ia bahkan rela berbohong demi mendapat tas yang dia idamkan.

“Iya tidak apa-apa. Semoga cepat selesai ya.”

“Iya Pak. Terima kasih Pak.”

“Stay safe ya Na.”

“Iya siap Pak.” Risna langsung keluar dari ruangan Pak Ridwan dengan wajah sumringah.

“Yeay akhirnya,” gumamnya pelan.

Wina sedang berjalan di sebuah lorong menuju ruang laboratorium. Terlihat Risna sedang jalan setengah lari.

“Na…Risnaaa,” katanya sambil berteriak. Risna membalikkan badannya.

“Eh Win, aku duluan ya..bye,” jawab Risna sembari melambaikan tangan.

“Tuh anak ngapain ya, jam segini dah pulang aja,” katanya sambil menggaruk dahinya yang tidak gatal.

Sesampainya di rumah, ia langsung menyiapkan barang-barang yang ia butuhkan seperti, hand sanitizer, masker, air putih, dan yang lainnya. Risna mengambil gadgetnya. Lalu ia memilih aplikasi berwarna hijau untuk memesan ojek online menuju terminal. Sembari menunggu ojek datang, ia mengambil piring ke dapur untuk makan siang. Risna menghampiri meja makan.

“Hari ini Ibu masak apa ya?” gumamnya sendiri. Setelah membuka tudung saji, raut wajahnya berubah.

“Ah iya lupa.” Tangan Risna sambil menepuk jidat.

“Ibu kan pergi ke Oma. Lah terus aku makan apa dong? Masa makan piring doang.” Lanjutnya dengan nada kesal.

“Assalamualaikum, Neng ojek…” teriak Mang ojol.

“Iya Mang bentar…” balasnya dengan nada yang tak kalah tinggi.

“Duh Mang ojek cepet banget datengnya. Dahlah makan nanti aja dijalan,” gerutu Risna sambil mengenakan maskernya.

“Risna Mazaya?”

“Iya saya.”

“Helm nya Neng.”

“Oh iya.”

Di motor Risna hanya menikmati angin sepoi-sepoi. Sesekali ia berbincang dengan pengendara. Tak terasa sudah sampai di terminal.

“Berapa Mang?” Tanya Risna.

“Sepuluh ribu Neng.”

“Oh iya, ini Mang.”

“Terima kasih Neng.”

“Makasih juga Mang.”

Risna berjalan mencari bus yang menuju Bandung. Ia berhati-hati untuk tidak mendekati kerumunan. Asap bus dimana-mana. Banyak orang yang tidak mematuhi protokol kesehatan.

“Yang mana ya bus nya?” tanyanya pada diri sendiri.

“Garut-Bandung, nah itu kali ya.”

Risna segera menghampiri bus itu dan bertanya pada kernet bus.

“Pak ke Bandung bus ini ya?” tanyanya pada kernet bus.

“Iya iya neng. Ayo masuk masih kosong.” Risna hanya mengangguk sebagai jawaban.

Risna melihat di dalam bus ada beberapa kursi yang disilang dengan lakban sebagai tanda untuk tidak diduduki. Akhirnya ia memilih kursi jajaran kedua. Sambil menunggu bus ini berangkat, ia merogoh ke dalam tas yang ia bawa untuk mengambil gadgetnya. Belum sempat ia menyalakannya.

Drrt…drrt

“Iya hallo, ada apa Win?”

“Ih ya Allah Na, daritadi aku nelpon.”

“Hehe maaf, ini soalnya aku lagi di bus mau berangkat.”

“Hah mau kemana emang?”

“Ke Bandung lah, jemput tas idamankuu,” jawabnya sambil terkekeh.

“Ih ya ampun Risna bandel bener.”

“Abis.. ni tas kebayang terus ampe kebawa mimpi Win.”

“Ya gak gitu juga kali Na. Awas lho corona masih menyebar.”

“Tenang aman kok.”

“Yaudah hati-hati ya.”

“Siap bos.”

Tutt..tutt.

“Dih ni anak main tutup-tutup aja. Gak pake assalamualaikum lagi,” gerutu Risna.

Terasa sopir sudah menyalakan mesinnya.

“Bismillahirrahmanirrahim,” ucap Risna. Ia berharap tidak akan terjadi apa-apa pada dirinya.

Merasa pengap, ia membuka maskernya. Sementara, Risna membuka botol Tupperwarenya dan minum untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Tanpa disadari  Risna tertidur.

Telolet..telolet…

Risna terbangun karena suara klakson bus. Ia melihat kondisi sekitar dan masih berusaha mengumpulkan semua nyawanya. Tak lama bus berhenti di terminal. Setelah turun dari bus, Risna langsung mencari toilet karena sudah tak tahan lagi menahan buang air kecil.

“Aduh aduh gakuat. Mana ya?” Setelah mencari kurang dari lima menit ia menemukan toilet.

Kini Risna sedang mencari jalan untuk menuju Mall PVJ lewat google maps. Sesampainya di Mall PVJ, mata Risna berbinar-binar ketika melihat toko yang menjual tas idamannya.

“Surgaku,” ucapnya sambil menggenggam kedua telapak tangan di dada.

Setelah membeli tas yang ia inginkan dengan menguras uang tabungannya, tak lupa ia mengambil foto tas dan dikirim ke Wina untuk pamer. Risna jalan-jalan sebentar mengelilingi Mall dan makan di restoran cepat saji. Dirasa puas mengelilingi Mall PVJ ia memutuskan untuk kembali pulang ke Garut. Risna tiba di Garut maghrib. Ia langsung membersihkan diri dan merebahkan tubuhnya di kasur, kini badannya serasa remuk. Tak lama Risna langsung terlelap tidur.

“Hallo, selamat pagi,” sapanya pada para pengunjung di parkiran. Risna berjalan menuju ruang ganti. Di perjalanan ada yang memanggil.

“Na…” Terdengar teriakan dari temannya, siapa lagi kalo bukan Wina.

“Hey, kenapa?”

“Aduh dah dipake aja ni tas baru.”

“Hehehe, iya dong.”

“Kamu sehat-sehat aja kan?” Wina menautkan alisnya.

“Nih liat, aku sehat-sehat aja kok.”

“Ya kali ada sesak atau batuk.”

“Haha, dikira aku corona.”

“Yaudah sana, tuh pasien makin banyak.”

Risna berjalan menuju ruangan khusus staf. Seperti biasa, suasana puskesmas ramai. Banyak orang lalu lalang. Tak terasa hari menjelang malam. Risna dan Wina pulang bersama. Diperjalanan mereka berbincang.

“Eh lusa bakalan ada tes swab khusus tenaga medis tau.” 

“Baru tau aku.”

“Ini aku juga liat di grup WA.” Risna hanya mengangguk sebagai jawaban. Mereka berpisah dan masuk ke rumah masing-masing.

Hari ini adalah tes swab massal bagi petugas Puskesmas. Setelah Wina selesai, kini giliran Risna. Keluar dari tempat pengambilan sampel specimen, Risna merasa lebih tegang tapi ia terus berfikiran positif.

Setelah dua hari, kini saatnya menerima hasil tes swab kemarin. Risna dan Wina sedang sibuk melayani para pasien di Puskesmas Cempaka. Tiba-tiba datang sebuah mobil ambulan. Para pengunjung kaget dengan para petugas yang datang, karena mereka langsung berlari kedalam Puskesmas. Wina dan Risna ikut kaget dengan apa yang terjadi. Sebagian petugas berbaju hazmat kuning mengimbau untuk menjauh dari tempat ini dan menuju posko yang ada di depan untuk diperiksa juga. Dua orang petugas lain datang menghampiri Risna untuk menjemputnya. Wina kaget tak menyangka jika temannya itu terinfeksi corona.

“Eh eh Pak, ada apa ini?” tanya Risna.

“Maaf Mba tadi pagi laboratorium menyatakan bahwa Risna Mazaya positif corona.”

“Hah, tapi saya gak ada keluhan apa-apa kok.” Wina langsung menghindar dari Risna dan segera keluar.

“Ayo, lebih baik kita ke Rumah Sakit sekarang, sebelum virus menyebar luas.”

Risna mengikuti para petugas yang datang dengan mengenakan baju hazmat yang masih ia kenakan. Benar-benar tak menyangka ia akan terinfeksi. Padahal ia sudah lakukan usaha sebaik mungkin untuk menghindari virus corona. Sesampainya di ruang isolasi, Risna mengganti pakaiannya dengan baju pasien dan dicek tekanan darah oleh perawat disana. Dokter datang ke ruangan isolasi KC-27, yaitu ruangan Risna.

“Selamat siang Mba Risna. Gimana keadaannya sekarang?”

“Dok saya gak ngerasain keluhan apapun kok. Terus kenapa tiba-tiba positif corona?”

“Mba Risna sekarang sudah ada yang namanya OTG, jadi orang itu tidak merasakan ciri-ciri terinfeksinya corona. Coba ingat-ingat lagi, sebelumnya apa yang Mba lakukan?”

“Hmm, beberapa hari kebelakang saya sempat ke Bandung. Tapi saya sudah mematuhi protokol kok.”

“Mba yang namanya virus itu tidak terlihat oleh mata kita. Mungkin tanpa disadari Mba sempat ceroboh, apalagi Bandung itu kawasan zona merah.” Risna hanya memerhatikan dokter saat berbicara dan mengangguk sebagai jawaban.

 “Baik kalau begitu saya permisi dulu. Sore nanti saya kembali untuk memeriksa.”

“Iya dok, terima kasih.”

Risna tahu Puskesmas pasti tutup karena dirinya. Benar saja Kepala Puskesmas memutuskan untuk menutup sementara Puskesmas Cempaka karena khawatir ada penularan dan akan dibuka lagi setelah disterilkan. Para petugas medis menelusuri warga yang kontak fisik dengan Risna. Beberapa sudah menjalani tes swab.

Sekarang di ruangan Risna sendiri. Ia merasa bersalah pada dirinya sendiri. Betapa bodohnya ia mengorbankan dirinya demi tas yang ia idamkan. Tapi nyatanya sekarang, tas itu tidak menyelamatkan dirinya dari bahaya wabah corona. Kini ia tak mau lagi dikuasai oleh egonya dan akan fokus pada proses penyembuhan.

 

 

 

                                                                         

0 Response to "TAS MEMBAWA BENCANA - Cerpen Covid19"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel